Peneliti Ungkap Alasan Kenapa Kebanyakan Pemain Game Online Cenderung Toxic


Peneliti Ungkap Alasan Kenapa Kebanyakan Pemain Game Online Cenderung Toxic

MobaGenie.ID - Apa Persamaan mendasar dari Game DOTA, Starcraft, Fortnite, PUBG, Mobile Legens, Aov, dan game onlie multiplayer lain? jikalau kalian adalah seorang Gamer Online Yang biasa memainkan Genre game multiplayer seperti yang MobaGenie.ID sebut tadi, pasti kalian bakal menjawab “sama-sama banyak player toxic-nya”. Yap, menjadi toxic atau berprilaku toxic di dalam sebuah Game online adalah hal yang biasa bagi kebanyakan pemain game Online. bahkan sampai-sampai ada peneliti yang meneliti sifat toxic gamer online. dan berikut ini ulasan lengkapnya yang mobagenie kutip dari Idntimes.

1. Tipe atau sifat toxic pemain Game Online dibagi 5 macam

Menurut data penelitian yang dipublikasikan oleh Kwak dkk pada Tahun 2015, ada kurang lebih 5 tipe sifat toxic yang dilakukan oleh pemain game online yang masing-masing adalah adalah sebagai berikut :

flaming, : mengirim chat yang bersifat ofensif;
griefing : membuat pemain lain kesal dengan sengaja;
cheating : menggunakan perangkat lunak secara ilegal demi keuntungan pribadi;
scamming : menipu transaksi barang dalam game demi keuntungan pribadi
cyberbullying : yaitu mengganggu pemain lain secara berulang-ulang.

dari kelima toxic diatas, flaming menjadi toxic yang paling sering dilaporkan pemain lawan.

2. Gamer Toxic berkaitan dengan efek online disinhibition

Berdasar pada penelitian Suler pada tahun 2004, sifat Toxic Gamer di game Online berhubungan dengan efek online disinhibition. apa itu online disinhibition? online disinhibition adalah perilaku yang hanya dilakukan atau ditunjukan oleh seseorang di dunia maya atau di game Online akan tetapi tidak dilakukan di dunia nyata.

Online disinhibition sendiri terbagi menjadi dua macam yaitu, yang bersifat positif misalnya menyemangati seseorang melalui komentar di postingan socsial media. sedang tipe yang kedua adalah kebalikannya, yaitu semua perilaku negatif misalnya melakukan bullying di sosial media.

Mungkin karena Game Online atau dunia maya adalah dunia virtual dimana minim hukum pidana maupun sanksi sosial, adalah penyebab utama kenapa gamer online cenderung bersifat toxic.

3. Kurang sosialisasi dengan lingkungan sekitar

Menurut penelitian yang dilakukan Lapidot-Lefler dan Barak pada Tahun 2012, kurangnya kontak mata dengan orang lain atau kurang sosialisasi dengan lingkungan sekitar juga menjadi salah satu penyebab utama seseorang melakukan flaming atau toxic di dunia maya.

Meskipun menjadi gamer online bukan berarti sudah pasti menjadi manusia introvert, akan tetapi kebanyakan gamer cenderung lebih jarang bersosialisai dengan lingkungan sekitar dibandingkan dengan orang biasa yang bukan gamer.

4. Mental labil, dan kurangnya self control 

Mattinen dan Macey pada tahun 2018 mengungkapkan dimana kecenderungan sifat toxic dari para pemain game online kemungkinan besar berkaitan dengan kondisi mental anak yang masih labil dimana belum bisa mengontrol emosi, yang mana menjadikan mereka lebih agresif dalam menanggapi perlakuan negatif dari lawan main di game.

Anak usia labil juga memiliki kecenderungan untuk meniru lingkungan sekitar dibanding engan orang dewasa. oleh karenanya, mereka yang bersifat toxic kemungkinan besar tidak menyadari jikalau dirinya itu sebenarnya toxic, karena mengganggap apa yang dilakukan adalah hal yang biasa bagi lingkungan sekitar dimana dia bermain game.

5. Efek ketatnya persaingan di dalam permainan

Dalam jurnal penelitian yang dipublikasikan oleh Shores dkk pada tahun 2014, pemain game online yang biasa bermain di mode klasik cenderung memiliki sifat toxic lebih rendah dibanding mereka yang kebanyakan bermain di mode rank. seperti kita tau mode klasik itu tidak memiliki persaingan tinggi, berbeda dengan mode rank yang mana penuh dengan persaingan an dan kompetisi antar pemain dari seluruh dunia.

6. Tidak terima di kill lawan dan cenderung suka menyalahkan orang lain

Penelitian lain dari Martens dkk pada 2015, Gamer online cenderung toxic ketika hero yang dimainkan dibunuh atau di kill oleh pihak lawan. dkk juga mengungkapkan jikalau Gamer online cenderung tidak mau menerima kekalahan dan lebih mudah menyalahkan team sendiri.

7. Dipengaruhi oleh kondisi permainan yang berlangsung

Masih menurut Martens dkk, Kecenderungan berperilaku toxic gamer dipengaruhi oleh konisi permainan yang berlangsung. bagi team yang merasa terpojok dan merasa bakal mengalami kekalahan lebih banyak melontarkan kata-kata kasar atau toxic melalui fitur chat di game, entah sekedar mengumpat untuk melampiaskan kekesalannya atau untuk mengejek dan menyalahkan anggota team yang dianggap menjadi penyebab team-nya kalah.

(Genie/News)


TAG:

Related Posts

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan bawah ariktel